BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) - Penyebab Gejala Dan Cara Mengobati Prostat Jinak

2:30 PM
BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) atau pembesaran prostat jinak yaitu keadaan dimana kelenjar prostat mengalami pembengkakan tapi tidak bersifat kanker.Fungsi dari kelenjar prostat yaitu memproduksi air mani yang letaknya di rongga pinggul antara kandung kemih dan p3n1s.Kelenjar prostat hanya dimiliki oleh laki-laki sehingga pasien BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) pun berjenis kelamin laki-laki dan biasanya di alami oleh laki-laki yang berumur diatas 50 tahun.

Gejala BPH

Gejala-gejala yang biasanya muncul pada penderita pembesaran prostat jinak antara lain yaitu:
- Inkontinensia Urine atau sering kencing
- Mengalami kesulitan dalam mengeluarkan urine
- Mengejan saat berkemih
- Selalu ingin berkemih terutama saat malam
- Aliran urine tersendat-sendat
- Urine yang keluar disertai darah
- Merasa tidak tuntas saat berkemih

BPH Benign Prostatic Hyperplasia Penyebab Gejala Dan Cara Mengobati Prostat Jinak

gejala tersebut muncul karena adanya tekanan di kandung kemih dan uretra saat kelenjar prostat mengalami pembesaran.Apabila anda mengalami gejala tersebut,sebaiknya segera periksa ke dokter agar segera mendapatkan diagnosis mengingat ada beberapa keadaan yang lain yang memiliki gejala mirip dengan BPH,antara lain yaitu:

- Penyempitan Uretra
- Batu ginjal dan batu kandung kemih
- Terdapat bekas luka di leher kandung kemih
- Kanker kandung kemih
- Prostatitis atau radang prostat
- Infeksi saluran kemih
- Kanker prostat
- Adanya masalah pada saraf yang mengatur kegiatan kandung kemih

Penyebab BPH

Hingga saat ini belum ada penyebab pasti pembesaran prostat jinak (BPH) tapi ada yang berpendapat jika keadaan ini disebabkan perubahan kadar hormon seksual karena penuaan.
Dalam sistem kemih laki-laki ada saluran yang berfungsi untuk membuang urine keluar dari tubuh melalui p3n1s atau uretra.Jalur lintas uretra ini biasanya akan melalui kelenjar prostat.Apabila terjadi pembesaran di kelenjar prostat maka lama kelamaan uretra akan sempit hingga akhirnya mmebuat aliran urine mengalami penyumbatan.Penyumbatan ini yang akhirnya membuat otot-otot di kandung kemih menjadi besar dan cenderung lebih kuat untuk mendorong urine keluar.

Faktor-faktor yang meningkatkan terkena BPH antara lain yaitu:
- Kurang berolahraga
- Faktor penuaan
- Menderita penyakit Jantung atau diabetes
- Efek samping obat-obatan atau penghambat beta
- Keturunan

Diagnosis BPH

Diagnosis dilakukan dengan cara menanyakan gejala-gejala yang dirasakan oleh pasien,misalnya:
- Aliran Urine sering tersendat-sendat atau tidak?
- Apakah sering atau tidak mengalami kemih yang terus menerus dan tidak tuntas?
- Apakah sering terbangun di malam hari untuk berkemih?
- Apakah sering mengejan saat akan berkemih?
- Apakah sulit menahan keinginan untuk berkemih?
- Apakah pasien berkemih lebih dari satu kali dalam kurun waktu dua jam?
Selanjutnya dokter akan memeriksa ukuran kelenjar prostat secara fisik dengan cara pemeriksaan colok dubur.

Tes Diagnosis Lebih Lanjut

Tes lanjutan yang bisa dilakukan untuk mendiagnosa BPH antara lain yaitu:

- Tes Urine
Tes ini dilakukan ketika dokter merasa bahwa gejala yang muncul bukan tanda-tanda BPH misalnya karena alasan lain seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal.

- Tes Darah
Tes darah dilakukan untuk memeriksa protein prostat spesifik antigen atau PSA yakni protein yang dihasilkan oleh prostat.Apabila kadar PSA pada pasien terbilang tinggi maka kemungkinan besar menderita BPH juga besar.Namun jika kenaikan yang terjadi cukup signifikan maka pasien berpeluang besar terkena kanker prostat.

- Tes Kelancaran aliran Urine
Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan kateter yang dilengkapi dengan kamera ke dalam saluran kemih pasien.Dengan monitor,dokter akan melihat tekanan yang ada di dalam kandung kemih dan seberapa baik kerja organ tersebut ketika pasien berkemih.

- CT Urogram
Cara ini dilakukan untuk mengetahui keadaan saluran kemih pasien misalnya ada atau tidak kerusakan di saluran tersebut lalu apakah ada penyumbatan yang disebabkan masalah lain diluar BPH misalnya karena batu kandung kemih atau batu ginjal.

- USG Transrektal atau USG melalui dubur
Pada tes ini,pemeriksaan yang dilakukan menggunakan gelombang suara ini dokter akan mendapatkan gambar kelenjar prostat dan semua bagian-bagiannya secara detail untuk mengetahui apakah pasien menderita BPH atau karena masalah lain misalnya kanker.

Tes-tes tersebut dilakukan bukan hanya untuk mendiagnosa BPH namun untuk melihat juga apakah ada masalah yang lain di luar BPH dengan tujuan agar pengobatan dilakukan sesuai sasaran atau tepat.

Pengobatan BPH

Pengobatan atau penanganan pembesaran prostat jinak atau BPH dilakukan berdasarkan dua kelompok yaitu penanganan BPH gejala ringan dan penanganan BPH dengan gejala menengah hingga parah.

Penanganan BPH gejala Ringan

Pada BPH gejala ringan masih bisa ditangain dengan obat-obatan,terapi menahan kemih dan juga dengan perubahan gaya hidup seperti:
- Berolahraga secara teratur misalnya berjalan minimal 1 jam per hari
- Sebaiknya konsumsi kafein dan minuman keras mulai dikurangi
- Aturlah jadwal minum obat yang tepat agar terhindar dari nokturia atau meningkatnya frekuensi buang air kecil semalaman.
- Biasakan tidak minum apapun dua jam sebelum pergi tidur untuk mengantisipasi nokturia atau berkemih pada malam hari.

Jenis obat untuk menangani BPH antara lain yaitu dutasteride dan finasteride.Obt tersebut dapat menurunkan ukuran prostat serta menangani gejala BPH dengan cara menghambat efek hormon dihidrotestoesteron.Dalam menggunakan kedua obat tersebut sebaiknya anda tetap mentaati aturan dari dokter mengingat kedua obat tersebut memiliki efek samping yang cukup keras antara lain yaitu kuantitas sperma menurun,impotensi,dan risiko cacat bayi jika anda menghamili seseorang dalam masa mengonsumsi obat tersebut.

Obat BPH yang lainnya yaitu golongan penghambat alfa,misalnya alfuzosin dan tamsulosin yang digabungkan dengan finasteride.Obat tersebut dapat melemaskan otot-otot kandung kemih sehingga urine menjadi lebih lancar.Namun kedua obat tersebut juga memiliki efek samping sepertui badan terasa lemas,sakit kepala,dan kuantitas sperma menurun dan untuk efek samping yang kronis yaitu bisa menyebabkan hipotensi atau tekanan darah rendah sampai hilang kesadaran atau pingsan.

Terapi Menahan Kemih

Terapi menahan kemih dilakukan dengan bantuan tenaga medis karena pasien akan dilatih tentang cara untuk menahan keinginan berkemih sekitar dua jam antara tiap berkemih.Di dalam pelatihan tersebut juga diajarkan tentang cara untuk mengatur pernafasan,mengalihkan pikiran ingin berkemih dan relaksasi otot.

Penanganan BPH Gejala Parah

Cara untuk menangani BPH gejala parah adalah dengan jalan operasi antara lain yaitu:

- Operasi Prostatektomi Terbuka
Operasi ini dilakukan dengan cara prostat diangkat secara langsung dari irisan yang dibuat di sekitar perut.Dulu langkah ini dianggap cara yang paling jitu dalam mengatasi BPH gejala parah namun seiring perkembangan zaman terdapat metode yang lainnya misalnya operasi transuretra prostat,prostatektomi terbuka sudah mulai ditinggalkan atau jarang digunakan.

- Operasi Reseksi Transuretra Prostat (TURP).
Cara mengatasi BPH gejala parah dengan langkah ini yaitu menggunakan bantuan alat bernama resektoskop yang bertujuan untuk menurunkan tekanan di kandung kemih yaitu dengan menghilangkan kelebihan jaringan prostat.Namun operasi ini memiliki efek samping yaitu pembengkakan di uretra.Oleh karena itu,pasien yang menjalani TURP tidak bisa berkemih dengan normal selama 2 hari atau lebih dan mengharuskannya menggunakan kateter untuk membantu berkemih dan akan dilepas setelah dapat berkemih kembali dengan normal.Operasi TURP ini juga beresiko komplikasi yaitu ejakulasi retrograde atau sperma yang tidak akan mengalir melalui p3n1s tapi akan masuk ke dalam kandung kemih.

- Insisi Transuretra Prostat (TIUP)
Operasi ini masih menggunakan alat resektoskop namun pada TIUP dokter mengambil langkah untuk memperluas saluran uretra sehingga urin bisa mengalir lancar dengan membuat irisan di otot persimpangan antara kandung kemih dan prostat.Cara ini memiliki efek samping yang hampir sama dengan TURP yaitu selama kurang lebih 2 hari pasien tidak dapat berkemih dengan normal sehingga harus menggunakan kateter untuk berkemih.Namun operasi ini tidak beresiko besar menyebabkan ejakulasi retrograde.

Komplikasi BPH

BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) atau pembesaran Prostat jinak bisa beresiko terkena komplikasi karena kandung kemih yang tidak bisa mengosongkan urin.Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain yaitu:
- Infeksi saluran kemih
- batu kandung kemih
- Kandung kemih dan ginjal rusak
- Ketidakmampuan berkemih atau retensi urin akut
Komplikasi tersebut dapat terjadi karena BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) tidak segera ditangani dengan tepat.

Pencegahan BPH (Benign Prostatic Hyperplasia)

Ada penelitian yang berpendapat,jika BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) dapat dicegah melalu makanan yang dikonsumsi seperti kaya serat,protein,rendah lemak dan agak dikurangi dalam mengonsumsi daging merah.Contoh makanan yang berserat tinggi yaitu:
- Kubis
- Lobak
- Bayam
- Apel
- Kacang hijau
- Beras merah
- Gandum
- Brokoli

Sedangkan contoh makanan yang mengandung protein tinggi antara lain yaitu:
- Susu rendah lemak
- Dada ayam
- Keju
- Ikan
- Telur
- Kacang kedelai

Artikel DokterBidan.Com Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Scroll to top